MUSYAWARAH NASIONAL
IKATAN LEMBAGA MAHASISWA PSIKOLOGI INDONESIA
24 – 27 JANUARI 2011, UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Berawal dari pemikiran “Seberapa besar peran yang dapat diberikan oleh mahasiswa psikologi kepada Indonesia ? dan Apakah kita membutuhkan sebuah wadah yang dapat menaungi seluruh aspirasi mahasiswa psikologi seluruh Indonesia ?” maka sebuah momentum pada generasi kita dari penantian dan perjalanan panjang dapat terwujud pada tanggal 24 – 27 Januari 2011. Ya, Musyawarah Nasional Mozaik Psikologi, mengantarkan 41 Lembaga Eksekutif Mahasiswa Psikologi di Indonesia mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi berkumpul dalam satu waktu untuk membahas Nasib Sebuah Wadah Psikologi Lingkup Nasional.
Empat hari itu dan seterusnya, sudah tidak ada lagi kalimat “Siapa yang memulai dan Siapa yang lebih tau?”, kita semua pada garis yang sama. Mengawalinya bersama- sama, memperjuangkannya bersama- sama, menetapkannya bersama- sama, mengesahkannya bersama- sama dan mempertahankannya bersama- sama. Sudah tidak ada lagi kalimat, “Saya dari Universitas mana? Dan Kami dari Wilayah mana?”, karena Indonesia bukanlah Jawa saja, bukanlah Sumatera saja, bukanlah Kalimantan saja dan bukanlah Sulawesi saja tetapi INDONESIA adalah KITA SEMUA.
Pemukulan GONG oleh Bapak Prof. Dr. A. Thib Raya selaku Pembantu Rektor III Bid. Kemahasiswaan UIN Jakarta pada tanggal 25 Januari 2011 pukul 10.00 WIB menandakan bahwa Musyawarah Nasional telah resmi dibuka dengan penayangan slide logo universitas yang hadir sebagai peserta Munas membuktikan keseriusan acara tersebut sebagai usaha dalam mewujudkan cita bersama.

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan pada sosialisasi informasi tentang LMPI oleh Anis Diah Ayu M dari UNS yang ditunjuk berdasarkan hasil Pra Munas di Bandung. Sosialisasi ini dimaksudkan untuk memberitahukan tujuan dari Musyawarah Nasional, agar tidak terjadi kesalah pahaman seperti pengalaman TOPSI Jawa – Bali yang lalu. Intinya adalah “Kita memang tidak boleh melupakan sejarah, layaknya Sumpah Pemuda yang tidak melupakan Proklamasi, tetapi sejarah itu dibuat bukan untuk terbuai lalu mengkritisi dan tidak memberikan solusi apapun. Dalam langkah yang sama, kita akan wujudkan cita dan impian bersama- sama dengan Berpikir secara Nasional. MUNAS ini bertujuan menyatukan mahasiswa psikologi se Indonesia dalam suatu wadah yang dapat bergerak untuk membangun masyarakat Indonesia dengan keilmuan psikologi yang dimilikinya”. Dalam Musyawarah yang dimoderatori oleh Surya UIN Jakarta menyatakan bahwa Mahasiswa Psikologi Indonesia yang terdapat dalam Forum MUNAS menyepakati untuk membentuk sebuah wadah psikologi dalam lingkup Nasional yang nantinya akan bermanfaat untuk bangsa dan Negara.
Empat setengah jam sidang berlangsung, dan forum menyepakati Draft Tata Tertib dan Draft Presidium Sidang Tetap “Musyawarah Nasional Mahasiswa Psikologi se - Indonesia” serta terpilihnya Ahmad Gusra UNSYAH, Muharram Atha Rasyadi UI, Taufik Nurrohim UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai Presidium Sidang Tetap. Sebelum masuk pada pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, maka forum membahas tentang “Bentuk Organisasi” yang akan diciptakan untuk organisasi kita Terjadi perbedaan pendapat yang cukup seru dikala itu yang diyakini bahwa semua pendapat tersebut sebenarnya memiliki maksud yang baik untuk organisasi ini. Sistem lobi pun belum berhasil membuat forum satu suara, dengan tetap teguh pada idealisme masing- masing dalam upaya yang terbaik untuk organisasi ini, maka dilakukanlah sistem pengambilan suara terbanyak (voting). Untuk merealisasikan visi bersama dengan tujuan organisasi yang ditetapkan diawal sesuai dengan hasil voting yang telah dilakukan, akhirnya mahasiswa psikologi se Indonesia menyepakati membentuk sebuah organisasi dalam bentuk Lembaga dengan nama ILMPI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia). Dengan harapan, ILMPI dapat Menjadi Wadah Organisasi Kemahasiswaan Psikologi seluruh Indonesia di tingkat eksekutif, yang dapat secara berkesinambungan mewujudkan mahasiswa psikologi sebagai insan akademisi di bidang ilmu psikologi dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, baik secara internal maupun eksternal.
Banyak pemikiran dengan segala latar belakang ilmu dan budaya yang berbeda, membuat sidang Musyawarah Nasional ini semakin menarik. Sidang hari pertama pun selesai sampai pembahasan Anggaran Dasar Pasal 9 tentang Status Organisasi pukul 23.45 WIB dan akan dilanjutkan pada hari kedua setelah Seminar Nasional, karena waktu yang sudah tidak memungkinkan dan delegasi pun harus beristirahat agar dapat mengumpulkan energi untuk acara yang lebih padat pada hari ketiga.

Seminar Nasional dengan tema “Psikologi di Indonesia : Kini dan Esok” dengan tujuan menyampaikan informasi mengenai perkembangan ilmu psikologi di Indonesia hari ini dan masa yang akan datang berlangsung pada hari ketiga (26 Januari 2011) dari jam 08.00 s.d. 13.00 WIB.
Keynote Speaker Prof. Dr. Bahrul Hayat (Sekjend DEPAG) membuka Seminar Nasional tersebut dengan membahas materi utama. Kemudian acara dilanjutkan oleh Ikhwan Lutfi, M. Si (Dosen Psikologi Sosial, Metlit dan Psikometri) selaku moderator dari pembicara seminar yaitu Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (Guru Besar dan Pakar Psikologi Sosial sekaligus Dekan FPsi YAI Jakarta) dan Jahja Umar, Ph.D (Pakar Psikometri dan Dekan FPsi UIN Jakarta). Acara berlangung lancar dengan dihadiri 300 peserta, dan banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil serta wawasan dari Seminar Nasional tersebut.
Pukul 14.00 WIB pada tanggal 26 Januari 2011, sidang dilanjutkan untuk pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ILMPI yang didalamnya membahas tentang struktur organisasi, keanggotaan, kepengurusan, anggaran dana dan lain sebagainya. Sidang ini pun berjalan dengan alot dan terkadang alurnya pun menjadi tidak terarah, oleh karena itu dibutuhkan ketegasan dari Pimpinan Sidang untuk mengkondisikan peserta dan mengarahkan jalannya sidang. Hal ini terbukti dengan pengesahan konsideran Anggran Dasar baru dapat dilakukan pukul 23.46 WIB.
Setelah konsideran Anggaran dasar dibacakan, sebenarnya kondisi peserta sidang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan sidang, kantuk dan lelah sudah mulai terasa oleh sebagian peserta. Tetapi dengan semangat yang begitu luar biasa dan komitmen yang dibentuk di awal untuk bergerak serta berjuang bagi peran psikologi di Indonesia, sidang pun dilanjutkan karena mengingat masih banyak hal- hal yang harus dibahas dan waktu yang dimiliki cukup terbatas. Melalui beberapa kali mekanisme lobi, pada pukul 03.44 WIB, akhirnya Forum Musyawah Nasional menyepakati konsideran Anggaran Rumah Tangga ILMPI. Tidak cukup sampai disini perjuangan kita, masih ada pembahasan tentang pembagian wilayah, iuran wajib anggota, pemilihan sekjend dan pengurus harian nasional serta langkah kongkret yang dilakukan setelah MUNAS. Mengingat kondisi peserta yang sudah benar- benar kelelahan maka forum menyepakati untuk sidang dipending hingga pukul 08.00 WIB.
Satu setengah jam melebihi kesepakatan awal, Pukul 09.30 tanggal 27 Januari 2011 pimpinan sidang melanjutkan sidang yang sebelumnya telah dipending. Pembahasan pun dilanjutkan dengan pembagian komisi yaitu Komisi 1 membahas tentang Iuran Wajib Anggota dan Komisi 2 membahas tentang Pembagian Wilayah. Selama 20 menit lebih tiap komisi mencari hasil terbaik, maka komisi 1 menyepakati untuk iuran wajib anggota dianggarkan Rp 100.000,00 / tahun (satu periode) dan komi
si 2 menyepakati untuk membagi ILMPI menjadi 5 wilayah (Sumatera, Jawa Barat- Djabodetabek- Sulawesi, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur - Kalimantan). Langkah kongkret yang dilakukan setelah MUNAS adalah sosialisasi dan penginformasian ke Fakultas/Jurusan/Prodi Psikologi di Indonesia, melakukan RAKERNAS pada bulan Juni/Juli di Univ. Mercubuana Jakarta, melakukan Muswil pada tiap- tiap wilayah dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum Rakernas.
Sebelum pemilihan Sekjend Nasional ILMPI maka diadakan penandatanganan Piagam Deklarasi, dikarenakan beberapa delegasi tidak dapat mengikuti acara hingga akhir. Para Saksi seperti Bapak Jahja Umar selaku Dekan FPsi UIN dan Bapak Andik selaku perwakilan HIMPSI juga ikut menandatangani Piagam Deklarasi ILMPI.


Setelah Acara Musyawarah Nasional resmi ditutup oleh Bapak Andik selaku perwakilan HIMPSI, maka kami pun masih melanjutkan sidang untuk pemilihan Sekjend dan Pengurus Harian Nasional. Dari delapan bakal calon (Anas - UIN Yogyakarta, Susilo - YAI Jakarta, Erik - UNJ, Fariz - UII, Atha - UI, Anis - UNS, Gartika - UIN Jakarta, Ayu - IAIN Surabaya) maka 3 nama yang menyatakan kesediaannya dan siap dicalonkan (Anas, Susilo dan Ayu). Ketika tahap pemilihan, hanya dua orang (Anas dan Susilo) yang menyanggupi untuk memberikan CV pada pimpinan sidang serta membacakan Visi Misinya dihadapan forum. Setelah, dilakukannya Pemungutan suara terbanyak maka Indonesia memilih Susilo Dwi Raharjo sebagai Sekretaris Jenderal Nasional ILMPI.

Pemilihan Korwil dilakukan tepat setelah Sekjend terpilih, untuk wilayah I - Anggi Frinandi dari Univ. Negeri Padang, wilayah II - Sapto Ashardianto dari Universitas Indonesia, wilayah III - Fuad Abdillah dari Univ. Negeri Semarang, wilayah IV - Bambang Supriyadi dari Univ. Mercubuana Yogyakarta dan wilayah V - Rhomi Farikha dari IAIN Surabaya. Sebelum Acara Musyawarah Nasional ditutup secara resmi oleh Pimpinan Sidang, Sekjend Nasional memimpin forum untuk pemilihan Pengurus Harian Nasional. Sekjend meminta kesediaanya kepada siapa pun yang siap dan bersedia untuk bersama- sama mengemban amanah bersamanya dalam mengembangkan ILMPI. Dan Pengurus Harian Nasional yang akan setia mendampingi serta membantu Sekjend pun terbentuk dengan Anis Diah sebagai Koor. Badan Kesekretariatan Nasional, Gartika Nurani sebagai Koor. Badan Keuangan Nasional, Atha Rasyadi sebagai Koor. Badan Informasi dan Komunikasi Nasional serta Anas Rifa’i sebagai Koor. Badan Bidang Nasional.
Dengan terpilihnya Sekjend dan Korwil, tersusunnya langkah kongkret Pasca MU
NAS dan terbentuknya Pengurus Harian Nasional, menandakan berakhir pula acara Musyawarah Nasional “Mozaik Psikologi”. Foto bersama dan salam- salaman antara delegasi dengan panitia, membuat penutupan acara ini semakin lengkap.
Yap, sebuah kisah yang tidak akan ada habisnya ketika menceritakan perjuangan dan pengorbanan dibalik kisah tersebut. Hari berat telah kita lewati dan hari- hari berat lainnya siap menanti. Persoalannya, tidak hanya berhenti ketika kita (mahasiswa Psikologi se Indonesia) bertemu dan membangun lembaga ini tetapi Tantangan yang lebih besar adalah Bagaimana kita mempertahankannya pada generasi kita dan generasi selanjutnya agar kebermanfaatannya terasa di masyarakat. Disini, Disana, kita semua sama, dan sekarang buat INDONESIA TERSENYUM dengan keberadaan kita. Selamat ambil bagian dalam kebaikan dan dalam sejarah perkembangan psikologi Indonesia tentunya. Mari banggakan INDONESIA dengan ilmu yang kita punya yaitu PSIKOLOGI. Sampai jumpa di Rapat Kerja Nasional. Kita tunggu kisah dan cerita perjuangan selanjutnya kawan- kawan. Jadi teruslah Berkarya, teruslah Berjuang dan Hidupi Lembaga ini!

Tidak ada sebuah Keberhasilan tanpa sebuah perjuangan dan Kesuksesan adalah kesabaran dalam Bertahan. Perjalanan ini sesungguhnya merupakan perjuangan sebagai Sarana pembuktian ,untuk para pejuang dalam menulis sejarah.
Hanya aka ada orang- orang yang berani memberikan pengorbanan yang akan bertahan dalam lembaga ini.Carpe Diem, Berhenti berarti Mati dan Bergerak berarti Hidup. Terus Bergerak dan Teruslah Hidup ILMPI.
SEMANGAT Para Pejuang ! Kalo bukan kita yang semangat, lalu siapa lagi.
Salam hebat selalu
Koor. Badan Kesekretariatan Nasional
Anis Diah