kumelihat dari balik kubah gereja
kutatap lurus ke arah cakrawala
disana mendung menampilkan keindahan warnanya
abu-abu. iya abu-abu
kata mereka itu ambigu
kata mereka warna itu kelabu
perlahan bersama hilangnya sang surya
mendung semakin pekat
aku tak kuasa untuk tetap ada di samping gereja
mengiringi datangnya senja
senja,
ahh...
kini ia bukan hanya milikku saja, kini dia telah mendua
aku tak lagi menjadi prioritas utamanya
kenapa semua baru sadar adar kehadiran senja lalu pergi mengambilnya? mengambilnya dariku?
mungkin mereka baru sadar. kalau senja hanya sementara.
nikmatnya hanya bisa dirasa sekejap
dan senja itu kini memilih mendua
seiring perginya senja, aku tak lagi memandang melewati kubah gereja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar