suara sirine terdengar dari kejauhan. segelintir orang-orang tak berwisma masih terlihat berlalu lalang di sekitaran
fly over di pusat kota Jakarta. mereka adalah sedikit dari sekian banyak kalangan menengah super kebawah negeri ini yang bertahan dengan hidup melarat di ibukota. dan mereka adalah orang-orang yang tak kenal lelah selalu berlari dari kejaran Satpol PP.
"Pak, ini sudah subuh, kita mau ngapain hari ini?" seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun menggelayut dalam rangkulan ayahnya di salah satu sudut terowongan jembatan itu.
"Ngga tau nak. ngapain aja yang penting hari ini dapat makan"
yah, percakapan yang selalu diulang-ulang setiap harinya tanpa bosan, dan tanpa adanya harapan ada perbedaan dalam pertanyaan atau jawaban. sama saja. itulah keluarga Safroni.
pagi ini, pemerintah mulai mencanangkan progran transmigrasi, atau perpindahan penduduk dari kota besar ke desa-desa yang dianggap bisa memberdayakan.
seorang laki-laki yang menjadi tetua di kamp
fly over itu mendatangi Safroni yang sedang membereskan gerobak teman kerjanya 20 tahun ini.
"Saf, sudah tau kalo kita ini mau digusur?" tanya Djae, panggilan Djaenudin sang tetua di daerah kumuh itu.
"Lah, bukannya setiap saat kita emang selalu digusur?" tanya balik Safroni.
"Ini beda, Saf. tempat ini bakal bakal bener-bener dibersihin dari curut semacem kita. tapi, kata orang pemkot kita bakal dipindahin, ke tempat yang lebih makmur."
"Dipindahin? dipindahin gimana maksud sampeyan?"
"Iya, bakal ada program transmigrasi besar-besaran ke Kalimantan, dan kita bakal dipindahin kesana."
"Kalimantan? pedalaman maksudnya?"
"Yaa.. belum tentu juga. yang pasti kita bakal ditepatin di daerah yang masih kosong dan katanya makmur."
"Ah, aku ngga kepikiran untuk pergi jauh kesana mas Djae."
"Ya,
monggo terserah. aku cuma menyampaikan saja, daripada kita disini jadi gembel ngga pernah naik pangkat?"
"....."
Lalu, Djae pun pergi meninggalkan Safroni yang masih memandang gerobak di depan bilik rumahnya yang hanya berukuran 4x4 meter itu.
Siang yang terik seperti biasanya. seorang anak perempuan berkulit gelap berdiri sambil bernyanyi didalam sebuah gerobak usang. mungkin kalau kulitnya terawat ia akan menjadi seorang anak yang manis, ya mungkin. ayahnya dengan berpeluh deras menarik gerobak itu sekuat tenaga. mereka selalu terlihat di sekitaran Pancoran dan perumahan di dekat situ mencari apa saja yang bisa mereka ambil dan dijadikan sumber pengisi perut sehari-hari.entah kenapa anak manis itu terlihat sangat gembira dan bersemangat.
"Pak, transmigrasi itu apa?" tanya si anak manis.
"Kenapa kamu tanya itu?" jawab Safroni, sang ayah.
"Tadi Minas denger bapak ngomong sama pak Djae di depan rumah."
"Hmm..." Safroni terlihat bingung harus menjelaskan apa kepada Minas, putrinya.
"Transmigrasi? Itu acara buatan dari pejabat-pejabat untuk orang-orang seperti kita yang mau dipindahkan ke pedalaman-pedalaman."
"Terus... kenapa bapak ngga mau?"
"Hidup sudah susah Nas, jangan ditambah susah."
"..." kini giliran Minas yang terdiam.
Kamis, 1 Maret 2012
Hari ini adalah batas akhir penggusuran para penghuni
fly over. Safroni memandang ke sekeliling "kampung"-nya itu. tatapannya nanar. Minas disampingnya terlihat gusar.
"Bapaaakk... ayo pergi.." rengek Minas sambil menarik-narik ujung baju ayahnya yang lusuh.
"......" Safroni hanya diam tidak membalas.
Seorang laki-laki berpakaian seragam petugas menghapiri bapak dan anak yang ada di depan gubuk mereka.
"selamat siang bapak. silakan menuju truk untuk pemberangkatan transmigran."
"......" kembali Safroni hanya terdiam.
sembari mendorong gerobak tuanya yang berisi banyak barang, dan menggandeng Minas, Safroni menggumam,
"saya memang pemulung yang melarat, tapi ini rumah saya. yang penting Jakarta."
ujarnya meninggalkan
flyover dan menjauh dari truk transmigran. entah kemana.. mungkin mencari
flyover lainnya. yaaaa... sepenting itukah Jakarta?