Senin, 28 November 2011

that girl was a teenage drama queen

i'm really thankful to God for the last few days that i can get passed. 5 days ago i feel like my world is going to destroyed in a second. a guy that i really liked, a guy that i wanted to be  my groom, a guy  that i wish to be a father of my child, he's now happy with another girl, his choose.

he's my ex actually, he's also waiting for me for the last 11 months. and now, when i've finally sure with my choice to build a new life with him, apparently, unexpectedly, he's now in a relationship with his junior.

for some people maybe it's just like another teenage story, and maybe they think that i face this case too much, too much drama, yeah, i think i'm now act like a drama queen.

but, fyi, sometimes, a story like this, you'll never know how to solve it.

i used to think that i try to suicide, dramatic huh? but yes, i thought that it was a simple way to be less depress. it was my coping at that time. posting hubbub and confusion tweets on my twitter. that was some example of katarsis ya know?

i tried to suicide by cutting veins, but that happens, just blisters on the wrist wound was deep enough, but not bad to feel the pain.

i always said that i'm okay, i'm cool, i'm fine... but actually, i just pretending to be strong, i'm not strong enough like a girl that you always know. my friends always ask, "where's the old elza? the cheerful one? the strong one that easy to move on? the smart one?" she's doesn't exist anyway, i buried her. deeply bury her.

the last, i also thanks to God for having a lot of best friend, best girls in the world that i have, that always support me, force me to stand up, even sometime they're being so fussy. but i love them.
and for you, my dear one, my love life architect, would you mind, someday, to propose me to build a lovely family? because, i'm sure to say "i do"... if... i still have a second chance, even you're not promise me anything.


sincerely,
elizabeth jane caesarina s.

Selasa, 22 November 2011

kupukupu tak sempurna

ia duduk manis terdiam di sampingku
jemarinya lincah melompat kesana-kemari diatas tuts laptop
kata demi kata ia tuangkan di layar putih itu
sembari gumaman lirih muncul dari bibirnya

nadanya tinggi
gayanya halus, cenderung lembut
tapi siapa sangka dia seorang pria
tubuhnya pria
aku yakin ia pria
namun ibarat kupu-kupu
ada kesalahan pada kepompongnya

sedikit melirik ke arah layar di depan wajahnya
tersirat seperti curahan hatinya terdalam
ia tidak bisa menyalahi takdirnya
tapi ia mungkin bisa mengubah nasibnya
nasib seorang pria
yang terjebak dalam kodrat kehidupan
karena kupukupu ini terjebak dalam kepompongnya

Jumat, 04 November 2011

yang penting Jakarta

suara sirine terdengar dari kejauhan. segelintir orang-orang tak berwisma masih terlihat berlalu lalang di sekitaran fly over di pusat kota Jakarta. mereka adalah sedikit dari sekian banyak kalangan menengah super kebawah negeri ini yang bertahan dengan hidup melarat di ibukota. dan mereka adalah orang-orang yang tak kenal lelah selalu berlari dari kejaran Satpol PP.

"Pak, ini sudah subuh, kita mau ngapain hari ini?" seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun menggelayut dalam rangkulan ayahnya di salah satu sudut terowongan jembatan itu.
"Ngga tau nak. ngapain aja yang penting hari ini dapat makan"
yah, percakapan yang selalu diulang-ulang setiap harinya tanpa bosan, dan tanpa adanya harapan ada perbedaan dalam pertanyaan atau jawaban. sama saja. itulah keluarga Safroni.

pagi ini, pemerintah mulai mencanangkan progran transmigrasi, atau perpindahan penduduk dari kota besar ke desa-desa yang dianggap bisa memberdayakan.
seorang laki-laki yang menjadi tetua di kamp fly over itu mendatangi Safroni yang sedang membereskan gerobak teman kerjanya 20 tahun ini.
"Saf, sudah tau kalo kita ini mau digusur?" tanya Djae, panggilan Djaenudin sang tetua di daerah kumuh itu.
"Lah, bukannya setiap saat kita emang selalu digusur?" tanya balik Safroni.
"Ini beda, Saf. tempat ini bakal bakal bener-bener dibersihin dari curut semacem kita. tapi, kata orang pemkot kita bakal dipindahin, ke tempat yang lebih makmur."
"Dipindahin? dipindahin gimana maksud sampeyan?"
"Iya, bakal ada program transmigrasi besar-besaran ke Kalimantan, dan kita bakal dipindahin kesana."
"Kalimantan? pedalaman maksudnya?"
"Yaa.. belum tentu juga. yang pasti kita bakal ditepatin di daerah yang masih kosong dan katanya makmur."
"Ah, aku ngga kepikiran untuk pergi jauh kesana mas Djae."
"Ya, monggo terserah. aku cuma menyampaikan saja, daripada kita disini jadi gembel ngga pernah naik pangkat?"
"....."
Lalu, Djae pun pergi meninggalkan Safroni yang masih memandang gerobak di depan bilik rumahnya yang hanya berukuran 4x4 meter itu.

Siang yang terik seperti biasanya. seorang anak perempuan berkulit gelap berdiri sambil bernyanyi didalam sebuah gerobak usang. mungkin kalau kulitnya terawat ia akan menjadi seorang anak yang manis, ya mungkin. ayahnya dengan berpeluh deras menarik gerobak itu sekuat tenaga. mereka selalu terlihat di sekitaran Pancoran dan perumahan di dekat situ mencari apa saja yang bisa mereka ambil dan dijadikan sumber pengisi perut sehari-hari.entah kenapa anak manis itu terlihat sangat gembira dan bersemangat.
"Pak, transmigrasi itu apa?" tanya si anak manis.
"Kenapa kamu tanya itu?" jawab Safroni, sang ayah.
"Tadi Minas denger bapak ngomong sama pak Djae di depan rumah."
"Hmm..." Safroni terlihat bingung harus menjelaskan apa kepada Minas, putrinya.
"Transmigrasi? Itu acara buatan dari pejabat-pejabat untuk orang-orang seperti kita yang mau dipindahkan ke pedalaman-pedalaman."
"Terus... kenapa bapak ngga mau?"
"Hidup sudah susah Nas, jangan ditambah susah."
"..." kini giliran Minas yang terdiam.


Kamis, 1 Maret 2012
Hari ini adalah batas akhir penggusuran para penghuni fly over. Safroni memandang ke sekeliling "kampung"-nya itu. tatapannya nanar. Minas disampingnya terlihat gusar.
"Bapaaakk... ayo pergi.." rengek Minas sambil menarik-narik ujung baju ayahnya yang lusuh.
"......" Safroni hanya diam tidak membalas.
Seorang laki-laki berpakaian seragam petugas menghapiri bapak dan anak yang ada di depan gubuk mereka.
"selamat siang bapak. silakan menuju truk untuk pemberangkatan transmigran."
"......" kembali Safroni hanya terdiam.

sembari mendorong gerobak tuanya yang berisi banyak barang, dan menggandeng Minas, Safroni menggumam,
"saya memang pemulung yang melarat, tapi ini rumah saya. yang penting Jakarta."
ujarnya meninggalkan flyover dan menjauh dari truk transmigran. entah kemana.. mungkin mencari flyover lainnya. yaaaa... sepenting itukah Jakarta?

Kamis, 03 November 2011

november rain

welcome wet november, hmm.. gue posting ini di dalem perpustakaan kampus dengan diiringi lagu ave marianya putri ayu, asli merinding dari atas sampe bawah...
by the way, kenapa wet november? kenapa november rain? ya karena sekarang kita udah masuk musim hujan. siang2 panas udah tiba2 aja berubah jadi mendung, angin sembribit, langsung deh ujan deres. paling enak emang kalo hujan kejebak di kantin kampus yang semilir abis itu, beli indomi rebus panas, sama es teh, baaahhh.... itu sih juara abisss..
yahh pokonya selamat datang bulan november, udah mau akhir tahun nih, sedia payung dan jas hujan sebelum kehujanan yah...

anyway, gue mau nyelesein postingan cerpen yang ketunda nih. cekidot yes.!!